MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN ISLAM

Oleh Suyanto, S.Ag.,MPdI

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntun”. (QS Ali Imran 104)

Ketika Ahmad Dahlan menunaikan ibadah haji di Mekah, beliau memanfaatkan momen keberadannya di Mekah untuk tholabul ‘ilmu maka pilihannya adalah menetap dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada waktu itulah, Ahmad Dahlan mulai mengenal pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Syeikh Muhammad Abduh, Syeikh Al-Afghani, Syeikh Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah.

Ahmad Dahlan adalah sosok yang khusuk beribadah, gigih dan semangat tholabul ‘ilmu, ini merupakan profil yang wajib dicontoh oleh kader-kader Muhammadiyah era sekarang. Bukti kegigihannya untuk menyatukan ide, gagasan dan memantapkan cita-cita besarnya untuk menjadi “Sang Pencerah”,  maka Ahmad Dahlan pada tahun 1903, bertolak kembali touring ke Mekah dan menetap selama dua tahun untuk tafaquh fiddin memperdalam ilmu agama.

Keberadaan Muhammadiyah tidak lepas dari berbagai faktor yang melatar-belakanginya. Baik dari faktor diri pribadi pendirinya yaitu Ahmad Dahlan juga dipengaruhi oleh faktor dari luar Ahmad Dahlan. Terkait dengan faktor dari diri pribadi yaitu pendalaman beliau terhadap Al Qur’an terutama surat Ali Imron ayat 104. Artinya : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung”.

Ahmad Dahlan memahami firman Alloh itu sebagai perintah untuk mendirikan perkumpulan atau golongan orang yang bekerjasama untuk dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Kerjasama antar beberapa orang tidak mungkin tanpa organisasi atau perkumpulan, dan dia beri nama perkumpulan itu , “Muhammadiyah”. Ahmad Dahlan bermaksud menjelaskan bahwa pendukung organisasi itu ialah umat Rasulullah Muhammad Saw.

Ahmad Dahlan melihat bahwa pelaksanaan ajaran oleh sebagian  umat Islam sendiri ada penyimpangan dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Muhammadiyah, yang dilahirkan dari rahim pembaharuan Islam di lingkungan Jawa memiliki komitmen untuk memurnikan ajaran Islam yang kala itu, khususnya di Jawa, banyak bercampur dengan perkara-perkara semacam Tahayul, Bid’ah dan Churofat (TBC) dalam kehidupan beragama umat Islam Indonesia sehari-hari.

Tahayul (T) adalah kepercayaan terhadap perkara ghaib, yang kepercayaan itu hanya didasarkan pada kecerdikan akal, bukan didasarkan pada sumber Islam, baik al-Qur’an maupun al-hadis. Contohnya percaya kepada benda-benda seperti keris, tombak, jimat dan lain-lain mempunyai tuah (manfaat) untuk sesuatu.

Bid’ah (B) menurut bahasa ialah segala macam apa saja yang baru, atau mengadakan sesuatu yang tidak berdasarkan contoh yang sudah ada. Sedangkan arti bid’ah secara istilah adalah mengada-adakan sesuatu dalam agama Islam yang tidak dijumpai keteranganya dalam al-Qur’an dan al-Sunnah.

Churafat (C)adalah suatu kepercayaan, keyakinan, pandangan dan ajaran yang sesungguhnya tidak memiliki dasar dari agama tetapi diyakini bahwa hal tersebut berasal dan memiliki dasar dari agama. Dengan demikian, bagi umat Islam, ajaran atau pandangan, kepercayaan dan keyakinan apa saja yang dipastikan ketidakbenaranya atau yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran al-Qur’an dan Hadis nabi, dimasukan dalam kategori khurafat.

TBC telah menyebabkan kehidupan umat Islam Indonesia menjadi tidak berkembang dan tertinggal karena kebiasaan umat Islam lebih banyak melaksanakan budaya-budaya yang tidak diajarkan dalam syari’at Islam dan tercemari kemurnian tauhidnya.

Latar Belakang Eksternal : Pertama, Praktek ajaran Islam yang tercampur dengan ajaran lain; Penyebaran ajaran agama Islam pada masa awal menggunakan strategi penyesuaian yang tidak menimbulkan pertentangan dari masyarakat yang masih beragama hindu, budha maupun kepercayaan. Strategi penyesuaian dilakukan oleh juru dakwah berhasil memasukkan Islam dalam kehidupan masyarakat kala itu. Namun ketika para juru dakwah awal sudah tiada, pendidikan yang dilakukan belum berhasil, ajaran Islam masih bercampur dengan ajaran yang lain, dan hal itu terjadi sampai sekarang dan dianggap sebagai ajaran Islam. Sebagai contoh adalah ritual Peringatan kematian dan sebagainya. Hal inilah yang perlu diluruskan oleh umat Islam.

Kedua, Adanya misi Kristenisasi ; Penjajah Belanda dengan metodenya sendiri telah melakukan misi Gospel, yaitu meng-injilkan daerah jajahannya termasuk Indonesia. Kristenisasi dapat berjalan karena rakyat Indonesia yang mayoritas adalah umat Islam dalam keadaan miskin, dan rendah dalam memahami agamanya,menjadi sasaran empuk untuk propaganda ajaran mereka.

KH Ahmad Dahlan merasa gelisah terhadap kondisi bangsa yang terjajah. Termasuk pendidikan juga telah diracuni oleh penjajah demi kepentingan pribadi dan kelangsungan hidup merka di bumi pertiwi. Berawal dari keprihatinan yang mendorong perjuangan melalui bidang pendidikan menjadi perhatian para tokoh-tokoh pejuang bangsa ini , diantara yang melatarbelakangi perlunya didirikan lembaga-lembaga pendidian melalui organisasi Muhammadiyah oleh Kyai Ahmad Dahlan. Pada saat itu masa penjajahan Belanda abad ke 17 s/d 18 M, bidang pendidikan di Indonesia harus berada dalam pengawasan dan control ketat VOC.

Melihat realitas sejarah pendidikan Islam, maka pad akhir abad ke-20 banyak kaum cendekia muslim dari Indonesia belajar di Timur Tengah untuk melalukan pembaharuan dalam bidnag pendidikan. System yang dibangun KH Ahmad Dahlan dalam mengadopsi pendidikan dariluar banyak diilhami oleh jaran Rasulullah, “ Hendaknya mempelajari  musuhmu agar tidak diperdaya musuh.” Serta sabda Nabi “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina.” Oleh karena itu system pendidikan yang dibangun Muhammadiyah berupaya untuk mengintegrasikan anatra system pendidikn pesantren dan sekuler dalam benyuk lembaga sekolah.

KH Ahmad Dahlan merasa terpanggil dan risau hatinya,  ia merasa bertanggung jawab dan wajib membangun, menggerakan dan memajukan umat Islam Indonesia. Baginya kehidupan dunia terlalu kecil jika dibandingkan dengan kebahagiaan akhirat dan KH Ahmad Dahlan yakin bahwa kewajiban itu ridak dilakukan seorang diri melainkan dengan berjamaah maka dibentuklah organisasi atau perkumpulan.

Keprihatinan KH Ahmad Dahlan diantaranya adalah Belanda  kala itu berhasil memasukkan rasa kebelanda-Belandaaan di beberapa lapisan masyarakat, terutama kaum terpelajar.  Pengajaran diberikan  di Sekolah Angka Satu kepada pegawai negeri dan orang-orang berkedudukan, dan Sekolah Angka Dua untuk anak pribumi dan umum.

Sekolah jenis pertama didirikan di ibukota karesidenan tujuannya untuk mendidik calon pamong praja. Pemerintah Hindia Belanda mendirikansekolah-sekolah tidak untuk mencerdaskan orang-orang Indonesia tetapi disebabkan oleh kebutuhan Pemerintah Hindia Belanda atau pengusaha asing akan tenaga kerja yang murah.

Pendidikan Barat ini menimbulkan dampak negatif, bahwa sampai menimbulkan penilaian yang salah terhadap agama Islam. Agama Islam disamakan dengan kemunduran. Agama Islam disebut-sebut tidak menjamin kearah kemajuan, sebaliknya mewakili suatu masyarakat yang masih serba kekurangan dan serba tertutup. Untungnya, tidak semua kaum terpelajar termakan oleh suara-suara yang mengecilkan hati. Sebagian besar mereka menolak pendapat-pendapat tersebut. Mereka beralasan bahwa kemunduran umat Islam justru dikarenakan system pemerintahan kolonial itu sendiri. Realitas umat Islam yang terbelakang mendorong KH Ahmad Dahlan menggerakan syi’ar Islam dengan model mendatangi santri dan memberikan pengajaran tentanga masalah-masalah keagamaan serta hal yang sederhana yaitu masalah kebersihan.

Leave a Reply